Puisi Panji Ramdana

Puisi Panji Ramdana
Puisi Panji Ramdana

Puisi Panji Ramdana – Panji Ramdana, memiliki nama lengkap Rizky Panji Ramdana, dia adalah seorang seniman, karyanya banyak di kenal oleh para pengguna media sosial. Panji Ramdana lahir di kota Ciamis pada tanggal 4, April 1991, Bandung. saat ini Panji merupakan mahaiswa Pascasarjana di Universitas Indonesia, dengan mengambil jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus. Dan sekarang sedang melanjutkan S2nya.

Panji memulai hobinya dengan membuat musikalisasi dengan tema puisi, sesuai dengan hobinya yaitu sastra. Panji memiliki impian untuk bisa mewujudkan semua cita-cita seluruh anak berkebutuhan khusus. Sebab mereka mempunyai potensi dan kemampuan dalam berkarya seperti yang lainnya. Panji Ramdana membuat terobosan baru dalam berkarya, yaitu dengan menggunakan media seperti gambar, musik atau suara dan tulisan yang tertera di dalam gambar untuk menyampaikan sebuah pesan melalui puisi.

Baca Juga : Puisi Pahlawan Tak Dikenal

Dengan cara ini, Panji Ramdana maupun siapapun bisa membuat karya sastra dengan cara yang lebih menarik dan keren. Apalagi sekarang para remaja lebih suka melihat gambar dan mendengar lagu. Musikalisasi puisi atau melodi puisi karya Panji Ramdana, sangat di kenal di kalangan remaja, tak hanya remaja tanah air. Penggemar melodi puisi Panji Ramdana juga sampai ke Manca Negara. Beberapa Melodi puisi karya Panji Ramdana adalah: Jangan Takut untuk Sendiri, Jodoh Ada di Sebelahmu, Telah Ada yang Menunggumu, Jodoh Datang di Waktu yang Tepat dan masih banyak lagi.

Melodi puisi panji ramdana, bertemakan tentang romansa atau percintaan. Karena itu hampir seluruh penggemar atau fans Panji adalah kaum hawa. Kata-kata yang terdapat dalam puisi Panji sangat romatis, jadi tak heran jika karya Panji Ramdana digemari kaula muda. Kita bisa melihat karya-karya Panji Ramdana dengan mengunjungi atau mengikuti akun media sosialnya, seperti: Twitter dengan nama akun @panjiramdana, Instagram dengan nama akun melodydalampuisi, dan Soundcloud dengan nama akun panjiramdana.

Puisi Panji Ramdana #1

“Karena itu, aku hanya bisa mematung di sini.
Memperhatikanmu dari kejauhan.
Aku tidak ingin terlalu jauh dalam mencintaimu.
Bukan aku tak berani.

Aku berani dalam mencintaimu.
Namun sekarang aku ingin menyembunyikan terlebih dahulu.
Katakanlah aku hebat dalam menyembunyikan semuanya.
Di depanmu aku mampu, tanpa ada setitik gumpalan kecemburuan.

Tapi ketika aku di depanku sendiri, sulit untuk aku menyembunyikannya.
Sudah kubilang, menjadi yang untukmu bukan tujuanku untuk sekarang.
Aku ingin lebih dulu memantaskan untukmu dan juga untukku sendiri.

Aku tidak ingin jika harus membuat kebaikan yang ada padamu sekarang itu berubah menjadi sebuah ketidakbaikan oleh karenaku.
Aku ingin belajar, untuk menjadi yang kau dan aku cita-citakan.
Yang terbaik.
Untuk kita, dan agama kita.

(Dalam Buku “Menuju Baik itu Baik”)

Puisi Panji Ramdana #2

“Malam ini aku rindu.
Benar, aku benar-benar rindu.
Merindukanmu adalah kebenaran yang tak menyenangkan.
Tapi mencintaimu? Itu menenangkan.”
Bukan tidak mungkin, sebab saat aku di dekatmu, mulutku seakan terus menarik agar membentuk satu senyum simpul.

Terimakasih untukmu, karenamu masalah sebesar apa pun akan terasa lebih ringan.
Hanya saja, ingat satu hal.
Apa pun yang berlebihan adalah tidak baik.
Cinta? Tidak terkecuali.

Cinta pada sesama lebih tepatnya.
Cintailah seseorang sewajarnya saja.
Tanpa kamu melupakan siapa yang telah menciptakan engkau.
Dengan ingatan yang jangan sampai mengalahkan ingatanmu pada sang pencipta.
Sudahi jika itu terjadi, atau kau sudahi cara mencintamu yang terlalu itu, dengan cinta yang sewajar-wajarnya cinta.”

(Dalam Buku “Menuju Baik itu Baik”)

Sama Halnya Denganmu

Bulan itu satu.
Sama halnya denganmu.
Bulan itu datang dalam malam.
Sama halnya denganmu.
Hanya saja bulan dalam nyata, kau dalam mimpi.

Dan bulang hilang ketika ku terbangun.
Sama halnya denganmu.
Namun aku tetap bahagia.
Bahagia bukan melulu soal kekayaan, ketenaran, kesuksesan, atau kecantikan.
Tapi ada dalam setiap hati masing-masing.

Jika bahagia dapat dibeli? Aku pasti tidak akan mendapatkannya.
Karena telah habis oleh orangorang kaya.
Jika bahagia ada di suatu tempat? Aku pasti telat dan tak akan dapat menuju kesana.
Karena semua orang sudah lebih dulu disana.

Sehingga aku kehabisan.
Serupamu, bahagiaku dalam kebiasaanku.
Sayangnya, aku tidak tahu kapan aku akan pergi.
Aku tidak tahu kapan kau akan pergi.
Dan yang kusesali adalah aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi.

Kalau aku bisa.
Aku ingin mengajakmu ke tempat-tempat yang ingin aku tunjukan.
Sebelum kita hilang.
Itu pun, kalau kamu bisa.
Karena melihatmu, sama halnya melihat udara.

Panji Ramdana

Ketetapan Terindah

Seringkali aku bertanya pada diri sendiri, apakah kamu ditetapkan untukku atau tidak ?
Jika iya, kapan hari itu akan datang?
Jika bukan, kapan jawaban tegas itu akan datang?

Jika memang kamu adalah ketetapan yang tidak ditetapkan untukmenetap tetap untukku
Namun, kamu tetap adalah ketetapan terindah, dan akan selalutetap begitu

Pada tiap detik yang hinggap, dalam kebersamaan langit temaram
Aku memandang penuh keyakinan, bahwa kamu adalah pilihanku

Dalam menyusuri jalan baru ini, kehadiran senyuman pengalih pada ketidakmungkinanku
Ya, kau kini adalah ketetapan terindah untukku
Melihatmu menjadi sesuatu hal yang selalu baru untukku
padamu aku temukan harapan untuk menjadi apa aku

Meski memang kamu bukan ketetapan untukku
Tapi bolehkah jika aku menjadikanmu ketetapan dalam
menetapkan semua pilihan hidupku kini

Aku mengagumimu dengan selayaknya aku mengagumi pelangiyang tanpa malu
Jika kau muncul, dengan selalu senyumku pun muncul

Aku… jatuh cinta
Padamu yang menjadikan gelap menjadi terang
Padamu yang menjadikan ketidakbaikan menjadi kebaikan

Terima kasih, pada sudut ini aku akan tetap diam dengan nyaman memperhatikanmu
Tak perlu kau tahu siapa aku dan siapa yang selalu mengikutimu itu
Namun izinkanlah untuk aku menetapkan arah pandangku
dan arah hidupku

Diamku Adalah Caraku Menjagamu

Kau terlalu indah
Sampai lisanku tak mampu lagi berucap kata terbaik yang bisa melukiskanmu
Kau terlalu sempurna
Sampai anganku tak mampu lagi lebih jauh untuk bermimpi
Kau terlalu hebat
Sampai langkahku terus saja tertinggal darimu dan aku hanya mampu melihatmu dari belakang

Kau terlalu jauh, itulah mengapa aku…diam
Diam dalam ruang pribadiku
Mengatakan sebuah beban dan harap yang tertulis dalam goresan kepalaku

Inginku sederhana
Aku ingin kau bahagia
Aku inginkau lebih dari apa yang kau miliki sekarang
Dan aku, ingin menjagamu
Dalam setiap langkah yang kau pijak, aku ada

Caraku menjagamu adalah dalam diamku
Karena aku tahu, menjaga adalah untuk seseorang tetap nyaman
Aku diam, karena aku ingin kau tetap nyaman
Ingin sekali ada satu hembusan yang belum aku dapatkan darimu hadir dalam hidupku

Aku ingin berhak untuk ada
Hingga sampai di sana ketika kamu terluka, aku menjadi pohon besar bagimu
Menjadi tempat sandaranmu, teduh dan menyejukkan
Mungkin ini adalah takdirku, meretas kerinduanku yang tak mungkin terjadi

Memelukmu dengan satu kehangatan yang berbeda
Binar matamu dan kamu berbeda
Apakah kau tak sadari itu?
Tak kau lihatkah ada satu pena dalam mataku yang ingin aku tuliskan dalam ingatanmu?
Aku, akan selalu ada, dan tinggallah dalam hatiku, air mataku, dan dalam ingatanku

Jagalah

Jagalah hatimu hanya untukku
Jangan menghadirkan hati yang lain
Dan apabila itu kau lakukan
Maka dirimu menjadi tercela dan terhina di mataku

Jagalah cintamu hanya untukku
Jangan mencoba mencintai yang lain
Seandainya itu kau lakukan
Enngkau tak berarti lagi bagiku

Hadirkan rindumu hanya untukku
Jangan mencoba merindu yang lain
Dan apabila kau lakukan
Maka akan segera merampas rinduku untukmu

Dan sesungguhnya aku mulai meragukanmu
Seberapa jauh kau melangkah dan berpaling
Sesugguhnya apa yang kau lakukan
Telah membinasakan perasaan hatimu sendiri

Dan aku tahu kau telah menepi berkali kali dengan yang lain
Namun kau selalu mengelak dan berlagak suci
kau selalu menampik kenyataan dan memutar balik keadaan

Hasil Pencarian:

puisi panji ramdana, efek nebul, kategori puisi panji ramdana, Kumpulan puisi panji ramdana, kumpulan teks puisi panji ramdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *